Saya pada Sabtu, 1 Desember 2012 lalu berkesempatan diundang oleh BEM FEUI untuk sharing tentang Social Entrepreneur pada acara kompetisi “Young Sociopreneur Challenge” di Kampus UI Depok.
Kebetulan saya dapat berbagi hal tersebut karena ingin berbagi ilmu social saya yang di dapat dari bangku kuliah MM CSR Universitas Trisakti, yang kebetulan saya pun mengambil tema tentang Social Entreprenur pada tesis saya.
Dan kebetulan pula di Komunitas TDA, saat kepemimpinan saya, tahun 2010 TDA memperoleh Best Achievement Social Entrepreneur Community. Dan selain itu pula saya mengelola sebuah sekolah sosial yaitu Sekolah Luar Biasa Sejahtera, di kawasan padat penduduk di Pademangan Barat. Sekolah untuk kebutuhan para penyandang disabilities ini diperuntukkan untuk mereka yang kurang mampu dan membutuhkan pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Saat saya menulis artikel ini, sedang terjadi arus balik pasca mudik lebaran tahun 2012. Saya ingin sedikit sharing tentang banyaknya pendatang baru ke Jakarta bersamaan dengan arus balik mudik ini. Jakarta bertambah penduduknya secara signifikan tiap tahunnya hanya pada musim mudik lebaran.
Menurut Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta (Dukcapil) yang di muat di Kompas, 22 Agustus 2012, penduduk resmi DKI ada 10.1juta jiwa penduduk. Dengan 10,1juta penduduk ini, menurut data BPS: kepadatan penduduk DKI per kilometernya adalah 14.469 penduduk (th 2010), untuk skala nasional, DKI yang hanya mempunyai luas 664 km2 atau hanya 0.02 % dari luas Indonesia secara keseluruhan, adalah wilayah terpadat. Wilayah terpadat nomor dua adalah Jawa Barat yang hanya 1.217 jiwa.
Di Singapura mengurus ijin usaha hanya memakan waktu 3 hari, di Indonesia bisa mencapai 60 hari.
Sulitnya mengurus izin mendorong para UKM untuk menggunakan jasa calo, atau memilih untuk tetap berada di sektor informal. UMKM kita ada 95% dari jumlah pelaku usaha. Dan kebanyakan dari sektor informal yang tidak terdaftar secara hukum. Ketiadaan ijin usaha UMKM membuat kendala serius untuk perkembangannya. Mereka tidak bisa export atau menjual ke pengecer besar.
Para UMKM tanpa perijinan juga mendapatkan kendala yang serius di akses perbankan sehingga menjadi faktor kendala untuk kemajuan usahanya. Padahal UMKM pencipta lapangan kerja terbesar, hambatan mereka akan menjadi kendala serius perkembangan ekonomi kita.

Gambar 1: Ratusan Anak-anak yatim di Acara Buka Puasa Bersama TDA
Alhamdulillah pada bulan Ramadhan 2009 ini acara buka puasa bersama dan santunan saya bisa ikuti bersama tiga komunitas pertemanan saya yaitu bersama teman-teman alumni Universitas Gunadarma Fakultas Teknik Informatika Angkatan 1992, alumni SMA Negeri 1 Jl Budi Utomo Jakarta (Boedoet) Angkatan 1992 dan bersama komunitas Tangan Di Atas (TDA).
Dengan teman-teman alumni saat kuliah di Gunadarma, diselenggarakan pada Minggu, 6 September 2009 di Yayasan Pesantren Alquran Fathimiyah, Jati Ranggon, Pondok Gede Jakarta Timur. Teman-teman TI92 ini berhasil mengumpulkan dana dan disalurkan kepada santri-santri yang ada di pesantren tersebut. Di acara ini diisi dengan sharing motivasi dan pengalaman dari teman-teman kepada para santri sambil menunggu waktu berbuka.
Recent Comments