Sarjana Koq Nganggur

sarjananganggur.jpgAcara Indonesia 1st Channel yang disiarkan live ke jaringan radio Trijaya Network merupakan acara yang setiap Senin pagi, jam 7-9 saya tunggu-tunggu. Kebetulan pada acara Senin, 24 Agustus 2009, saya mendapati kehormatan untuk menjadi nara sumber yang bertopik : “Sarjana Koq Nganggur”.

Selain saya, tampil sebagai pembicara adalah Bapak Prof. DR. dr. Fasli Jalal (Dirjen Pendidikan Tinggi, Dept Pendidikan Nasional RI) dan Bapak Berly Martawardaya, SE, M.Sc, PhD (Dosen FE UI). Dan di pandu oleh Bapak Dwitri Waluyo (Redaktur Majalah Gatra).

Data BPS bahwa jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2009 mencapai 9,26 juta orang atau 8,14 persen dari total angkatan kerja. Makin banyak saja sarjana lulusan perguruan tinggi Indonesia jadi pengangguran. Jumlahnya kini sebanyak 1,2 juta dari sarjana jadi penganggur terbuka.Keadaan tersebutlah sehingga talkshow ini diangkat. Pak Fasli Jalal mengatakan bahwa ada 3 kategori mengapa para sarjana masih menganggur yaitu pertama mereka masih bertahan menunggu menjadi pegawai negeri sipil (PNS), kedua mereka sudah bekerja namun tetap tujuan akhirnya menjadi PNS dan ketiga adalah mereka yang memang sedang mencari kerja.

Dan hal ini dibenarkan oleh Pak Berly bahwa sebagian besar lulusan ingin menjadi PNS. Adapun lainnya ingin menjadi karyawan swasta.Saat ditanya pengalaman saya mengapa saya memilih menjadi seorang entrepreneur dibanding menjadi PNS. Bahwa sebenarnya keluarga saya pun menginginkan saya mengikuti jejak orang tua yang menjadi PNS. Namun saya lebih memilih menjadi wirausaha untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

Dan saya mengungkapkan solusi bagi mereka sarjana yang masih mengganggur adalah mereka harus berani menjadi entrepreneur. Saya pun mengatakan bahwa sistem pendidikan perguruan tinggi kita masih tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan usaha. Harus ada pensinkronan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja sehingga menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai, seperti saat ini SMK-SMK sudah menerapkan sistem tersebut. Dan seharusnya pendidikan di perguruan tinggi dapat melahirkan pencipta lapangan kerja bukan pencari kerja.

Pak Fasli Jalal mengungkapkan bawah memang para mahasiswa sebenarnya bukanlah melahirkan tenaga kerja yang siap namun mereka akan menghasilkan manusia yang mempunyai skill analitis, kritis, menjadi problem solver dan mempunyai life skill. Menurutnya benar bahwa sudah ada perbaikan dan menyederhanakan program-program studi yang terlalu banyak dan tidak match di kampus menjadi program studi yang mempunyai standar kompetensi yang siap pakai.

Dan beliau pun mengungkapkan bahwa pemerintah pun telah menyediakan dana untuk menunjang kewirausahaan di perguruan-perguruan tinggi baik milik negara mau pun swasta. Setiap PTN mendapatkan anggaran Rp. 2 M dan swasta melalui kopertis mendapatkan Rp. 1 M per kopertis. Total dana yang dialokasikan untuk program ini adalah kurang lebih 150 milyar rupiah di tahun 2009 ini. Program ini berkerjasama dengan lembaga pendidikan entrepreneur group Ciputra dan lainnya.

Program meliputi pelatihan-pelatihan untuk para dosen tentang kewirausahaan dan pendanaan modal bagi mahasiswa yang proposal bisnisnya layak dibiayai. Pak Berly menambahkan bahwa para mahasiswa diharapkan juga aktif untuk ikut dalam program kepanitiaan kegiatan apa pun di kampus sehingga para mahasiswa terbiasa dengan organisisasi, kepemimpinan, bisnis, berkreasi dan mendapatkan pengalaman sebelum mereka terjun ke dunia kerja maupun wirausaha.

Di kata terakhir saya mengulang kembali bahwa kewirausahaan adalah solusi untuk para pengganggur terdidik untuk mereka dapat mandiri dalam kehidupannya. Tidak melulu mencari kerja namun dapat menciptakan lapanganan kerja. Dengan kemandirian ini maka para sarjana tersebut dapat mengentaskan kemiskinan untuk orang lain pula jika ia dapat merekrut karyawan di usahanya. Maka dukungan dari perguruan tinggi dan terutama keluarga amatlah tinggi untuk menwujudkan tingginya minat kewirausahaan di negara kita. Minimal harus ada satu pengusaha dalam satu keluarga.

Pengusaha Ciputra pun yakin bahwa Indonesia akan maju dan mandiri jika jumlah pengusaha sudah berjumlah 4 juta orang yang saat ini masih 400ribuan orang atau masih 0.18 persen dari jumlah penduduk. Idealnya 2 persen, di Singapura sudah mencapai 7 persen dan Amerika diatas 2 persen.

Mau jadi pengusaha? :)

Related Articles

3 Comments

  1. idiq

    wah.. yang nganggur mikir tuh,,, makanya tunggu apa lagi ayo wirausaha!!!! sukses bwt pak Iim Rusyamsi…

  2. suherman

    Mas, supaya mahasiswa mau jadi entrepreneur dan harus ada perbaikan/ diadakan program-program kewirausahaan di perguruan tinggi, itu sih semua orang juga tau (itu bukan solusi namanya).
    Apa ukuran keberhasilan dari penggunaan APBN untuk melaksanakan Solusi Subyektifnya otoritas di Diknas.
    Berkacalah pada kegagalan dan carilah Solusi yang benar-benar obyektif.
    Maaf dan salam.

    IR: Terima kasih masukannya…sukses yah…

  3. Yogi Novian

    Berwirausaha rasanya luar biasa, dan peluangnya sangat besar, tidak perlu takut dibatasi usia dan lulusan apa serta gaji berapa segalanya bisa

Post your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagikan Iim Rusyamsi

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Hubungi saya:

Silahkan kirim email ke iim.rusyamsi(at)gmail.com