27
Kita yang beraktifitas dan menjalani kehidupan sehari-hari di Jakarta mungkin sudah terbiasa dengan kemacetan, polusi dan kebisingan deru kendaraan. Saat ini Indonesia masuk diurutan ke empat penyumbang polusi terbesar di dunia. Urutan pertama hingga tiga adalah Amerika, Uni Eropa dan China.
Hampir di seluruh pelosok di dunia menyerukan untuk hidup lebih bersih dan hijau dalam menghadapi dampak pemanasan global ini. Lingkungan hidup masih menjadi nomor belakang di mata pemerintah. Perhatian pemerintah masih besar terhadap pendidikan, kemiskinan dan kesehatan.
Di Indonesia, pembakaran hutan adalah hal terbesar dalam penyumbang polusi dan kemudian diikuti oleh polusi dari kendaraan bermotor di kota-kota besar termasuk Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, pernah mengungkapkan bahwa tahun 2008 di Jakarta terdapat 2.4 juta kendaraan roda empat dan 3 juta lebih kendaraan roda dua yang tiap tahunnya meningkat jumlahnya hampir 11 %.
Dengan jumlah penduduk yang padat di Jakarta kita dapat bayangkan dan rasakan tingkat polusi tersebut dari kendaraan bermotor.
Hari Sabtu, 26 Juli 2009, saya diundang oleh Toyota yang tengah mengikuti Indonesia International Motor Show 2009 di Arena PRJ Kemayoran untuk diperkenalkan teknologi mobil hybrid berenergykan kombinasi mesin berbahan bakar dan tenaga motor listrik. Teknologi ini diterapkan di jenis Toyota Prius, yang saat show tersebut resmi mulai dipasarkan di Indonesia dan diresmikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Sri Mulyani pada satu hari sebelumnya.
Pada kesempatan itu pula saya mencoba untuk mengendarai Toyota Prius di Tam
an Impian Jaya Ancol bersama beberapa rekan didampingi oleh team dari Toyota. Sebelumnya kami dijelaskan tentang teknologi Hybrid Synergy Drive ini. Pola kerja dari dual mesin ini adalah saat berhenti dan berkecepatan normal dan rata, mobil digerakkan dengan generator motor listrik dan mesin mobil hanya penunjang. Sehingga saya merasakan tidak bisingnya mesin mobil, yang ada hanya suara roda yang digerakkan oleh dinamo roda dengan generator listrik tersebut.
Namun pada saat mobil berkecepatan penuh dan menanjak kedua mesin berkerja secara penuh namun saya merasakan peralihan dari tenaga listrik ke mesin tidak terasa hentakan atau pun suara mengaum mesin mobil umumnya. Kita bisa melihat langsung di layar LCD saat operational mesin yang digunakan. Sehingga bisa mengetahui kapan saatnya generator listrik sedang digunakan dan sebaliknya.
Saya sempat bertanya secara awam, bagaimana jika baterai/listriknya habis terpakai di jalan. Ternyata kita tidak perlu khawatir. Indikator baterai terlihat di layar tersebut layaknya indikator baterai di pesawat ponsel kita. Baterai akan ter-charge secara otomatis dari asupan energi yang dibuang dari mesin berbahan bakar ke baterai. Sehingga begitu efisiennya kita men-charge baterai tanpa memerlukan tenaga listrik berbayar namun dari buangan energi mesin mobil saat mobil berjalan.
Toyota Prius yang telah memperoleh penghargaan “the most selling hybrid car in the world” adalah diproduksi awal pada tahun 1997. Saat ini sudah memasuki generasi ke tiga dan sudah terjual sebanyak 1.2 juta unit di dunia. Sebenarnya generasi ke 2, sudah masuk ke Indonesia pada tahun 2007 namun belum dipasarkan. Toyota memberikan 6 unit kepada pemerintah dan beberapa perguruan tinggi untuk penelitian lebih dahulu. Dan resmi 2009 inilah dipasarkan ke konsumen Indonesia.
Kendaraan hemat energi yang bertenaga 1500 cc ini konon menurut Toyota hanya memakan BBM per liternya untuk 23 KM di kondisi jalan dalam kota. Sungguh hemat sebenarnya, namun harganya sendiri masih terbilang mahal yaitu 585 juta rupiah. Mungkin karena masih sedikitnya kendaraan ini dipasarkan di Indonesia dan belum diproduksi langsung oleh Toyota di Indonesia sehingga bea pajak yang dibebankan masih cukup tinggi.
Menurut Toyota, pada tahun 2020, semua varian mobil baru sudah akan menggunakan system Hybrid Synergi Drive ini untuk mendukung pengurangan dampak pemanasan global. Dan tentu harga mobil type ini sudah akan sangat terjangkau.
Bagi kita yang belum terjangkau untuk membeli kendaraan pendukung go green ini tentu tidak akan menunggu tahun 2020 untuk membantu mewujudkan Jakarta lebih hijau dan segar udaranya. Kita bisa memulainya dari rumah kita, dengan hidup hemat energy seperti penggunaan listrik, kendaraan dan pemisahan keranjang sampah yang dapat di daur ulang.
Saya pun berterima kasih kepada Toyota yang memberikan kesempatan dan mensosialisasikan teknologi ini kepada saya serta tak lupa terima kasih pula kepada Toyota yang memberikan souvenir berupa bibit tanaman yang dapat kita tanam dan tumbuhi di halaman rumah kita sebagai ungkapan dan partisipasi kita kepada gerakan Go Green Indonesia sehingga peringkat penyumbang polusi terbesar untuk negara kita segera berkurang tidak menunggu tahun 2020 dimana mesin hybrid tersebut telah memasyarakat secara luas. Amin…




iimrusyamsi
October 10th, 2009 at 4:10 pm
Wah mantap mobilnya pak Iim. jadi, untuk tenaga listrinya bisa “ngecas sendiri” ya pak? benar-benar mantap!
Semoga harganya makin lama makin turun …
Add A Comment