About
Saya Iim Rusyamsi biasa dipanggil Iim, lahiran tahun 1974, saat ini saya menjalankan usaha yang berbasis IT, education dan internet. Selengkapnya klik disini.
Mailing List TDA IT
Daftarlah pada Komunitas Bisnis IT dan Komputer
Name
E-mail
RSS Feed
Get the most recent posts and comments sent to you directly by subscribing to our RSS feeds!
Subscribe to RSS! Subscribe to RSS Comments!
Jan
26

Yuswohady : TDA, Crowd, dan “Era Sejuta Bill Gates”

iimrusyamsiTDA

iim_yuswo2.jpgSaya dapatkan tulisan testimoni tentang TDA dari Bapak Yuswohady dari
blognya dan halaman Facebook-nya.
Beliau adalah murid terbaik Pak Hermawan Kartajaya, saat ini adalah
Chief Executive, MarkPlus Institute of Marketing (MIM), divisi
training & education MarkPlus Inc.

Kami mengunjungi beliau karena buku terbarunya CROWD sedang menjadi
pembicaraan di dunia marketing dan menjadi fenomena baru dengan
lahirnya era newwave marketing dan horizontal marketing. TDA yang
sebuah komunitas para entrepreneur ini tidak disadari telah
menggunakan horizontal marketing dalam berkomunikasi seperti yang
beliau tulis.

Selain buku CROWD, beliau telah menulis 40 buku, salah satu best
sellernya adalah Marketing in Venus bersama Hermawan Kartajaya. Beliau
juga rutin menulis di majalah Warta Ekonomi, majalah Business Review,
majalah Franchise, Harian Jurnal Nasional.

Secara khusus beliau akan tampil di Milad 3 TDA membawakan materi
Horizontal Marketing. Pastikan teman2 hadir dan mendapatkan ilmu dari
beliau.

Berikut saya copy pastekan apa yang ia tulis tentang TDA dari blognya : (terima
kasih banyak Pak Yuswohady)

================

Minggu lalu saya ketemu mas Iim Rusyamsi, Rosiham, dan mbak Inez dari
komunitas Tangan Di Atas (TDA). Lama ngobrol dengan mereka banyak
pelajaran yang saya dapat. Cerita mereka mengenai bagaimana TDA
“beroperasi” membuat saya takjub. Takjub, karena model komunitas yang
saya bayangkan selama ini, yaitu apa yang saya sebut “VALUE-CREATING
COMMUNITY” berlangsung dalam format sederhana di komunitas yang baru
berusia 3 tahun ini.

Sebelumnya saya membayangkan value-creating community ini hanya ada
pada kasus-kasus hebat seperti komunitas Linux, komunitas Mozila
Firefox, komunitas programer amatir Nokia, komunitas InnoCentive,
komunitas Wikipedia, atau komunitas Facebook. Tapi rupanya cikal bakal
komunitas pencipta nilai ini sudah ada di negeri ini. Saya pun
berharap komunitas seperti TDA ini bisa menjadi model terbentuknya
komunitas-komunitas sejenis secara massal di negeri ini.

Bermula Dari Blog

Sebagai background ada baiknya jika saya ceritakan sedikit sejarah
berdirinya komunitas ini. Komunitas ini didirikan oleh Badroni
Yuzirman yang berawal dari sebuah blog yang ditulisnya. Dari blog yang
cenderung “memprovokasi” pembacanya untuk menjadi pengusaha itu
kemudian tercetus ide melakukan kopi darat dalam bentuk talkshow
dengan menghadirkan Haji Ali, salah satu tokoh sukses yang sering
diceritakan di blog tersebut.

Dari talkshow itulah diperkenalkan “Tangan Di Atas” sebagai nama
komunitas ini, yang kemudian diperluas tafsirnya menjadi pengusaha
atau pedagang. Para peserta kemudian ditantang untuk langsung take
action memulai bisnis dengan membuka kios di ITC Mangga Dua. Untuk
memperlancar komunikasi, koordinasi dan diskusi mengenai problem
bisnis merka, maka dibuatlah mailing list. Mailing list itu kemudian
dibuka untuk umum dengan anggota mencapai ratusan orang.
Dalam rumusan visi-misinya, komunitas ini memiliki tujuan mulia
mencetak pengusaha kaya yang gemar memberi kepada sesamanya. Bahkan di
dalam misinya secara jelas ditargetkan komunitas ini berambisi
mencetak 10.000 pengusaha miliarder sampai dengan tahun 2018. Untuk
mewujudkannya, mereka menggunakan medium komunitas. Kenapa? Karena
mereka meyakini bahwa dengan berbagi, saling mendukung, memecahkan
persoalan bersama, dan bersinergi satu sama lain, persoalan seberat
apapun akan mudah terpecahkan.
Jumlah anggota komunitas ini sampai saat ini sudah sekitar 5000 orang
tersebar di berbagai kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Malang, Member
komunitas ini secara umum dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, TDA
(Tangan Di atas), yaitu member yang sudah full berbisnis dan dalam
upaya meningkatkan bisnisnya ke jenjang lebih tinggi. Kedua, TDB
(Tangan Di bawah), yaitu member yang masih bekerja sebagai karyawan
dan sedang berupaya untuk pindah kuadran menjadi TDA. Ketiga, Ampibi,
yaitu member yang masih dalam tahap peralihan dari TDB ke TDA dengan
melakukan bisnis secara sambilan.

Untuk memasilitasi para member-nya komunitas ini telah menjalankan
beragam kegiatan produktif yang begitu padat. Kegiatannya mulai dari
seminar, workshop, pameran, diskusi online, webinar, business coach,
buka kios bersama, leverage game, CSR, kelompok-kelompok diskusi
Mastermind, dan sebagainya. Semua kegiatan itu dijalankan untuk
memasilitasi dan mengantarkan member menjadi TDA yang sukses.

Value-Creating Community

Balik ke topik semula. TDA saya sebut value-creating community karena
sekelompok orang yang punya minat, keinginan, dan visi yang sama
bergabung, berkomunikasi, berinteraksi, berkolaborasi, berdiskusi,
saling belajar, saling bertukar informasi, saling memberi ide, dan
saling memberi solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Berbeda
dengan komunitas-komunitas yang ada sebelumnya, komunitas ini
memanfaatkan web 2.0 tools dan social media seperti blog, milis,
Facebook, Multiply, Yahoogroups, YM, dan lain-lain untuk memasilitasi
aktivitasnya. Saya kira MASS COLLABORATION dalam format yang sederhana
terjadi di dalm komunitas ini.

Mereka membentuk komunitas untuk mengambil manfaat dari apa yang oleh
James Surowiecki disebut “WISDOM OF CROWD”. Mereka meyakini prinsip
dasar bahwa “WE are smarter than ME”: bahwa sesuatu yang dikerjakan
secara bersama-sama pasti hasilnya jauh lebih bagus, lebih sempurna,
lebih hebat, lebih solid, lebih cepat, lebih efisien, lebih produktif.
It’s the power of crowd. Mereka melakukan apa yang disebut kolaborasi
secara kolektif di antara member untuk menciptakan nilai. Istilah
kerennya: “mass collaboration for value creation”.

Menariknya, proses komunikasi dan kolaborasi itu berlangsung secara
horisontal dan natural. Horisontal, karena di dalam komunitas itu tak
ada sebuah otoritas formal yang mengontrol kerja dari komunitas ini.
Kalaupun di situ ada mas Iim dan timnya, itu lebih bersifat
memasilitasi, bukan mengatur apalagi menginstruksikan dan mengontrol
kerja dari komunitas ini.

Di sini tak ada kooptasi dari Kementrian Koperasi dan UKM; tidak ada
instruksi dari Kementrian Pemuda dan Olah Raga; tak ada dana INPRES.
Mereka juga tidak menjual proposal ke World Bank atau IMF. Mereka
bukanlah komunitas malas yang menunggu datangnya subsidi dan bantuan
dari pemerintah atau lembaga donor. Semua kebutuhan dana dicukupi
sendiri secara mandiri, kalau perlu pakai saweran. Itu pula sebabnya
UKM-UKM binaan pemerintah atau LSM selalu loyo, tak pernah bisa
sesolid mereka. Kenapa? Karena mindset dan landasan berpikir komunitas
yang dibangun Pemerintah dan LSM 180 derajat berbeda dengan komunitas
ini.

Karena mereka memiliki “mimpi besar” yang sama untuk menjadi great
entrepreneur, mereka mampu menyatukan langkah dan menyingkirkan semua
persoalan yang menghadang untuk mewujudkan mimpi tersebut. Mereka
membentuk apa yang saya sebut “network of trust” yang memungkinkan
komunitas ini bekerja secara seamless, “self-managed “,
self-coordinated”, “self-governed” berdasarkan pola kerja bersama yang
mereka sepakati. Itu sebabnya mas Iim menyebut komunitas ini:
“trust-based community”.

Jujur, selama berbulan-bulan menulis CROWD: “Marketing Becomes
Horizontal” saya mendambakan adanya sebuah komunitas penciptaan nilai
yang mampu memberikan kontribusi besar bagi negeri ini. Sebuah
komunitas yang mampu memberdayakan setiap potensi individu dan
mengambil manfaat dari kekuatan collective wisdoms. Selama menulis
buku waktu itu memang yang ada di benak saya adalah komunitas Linux,
komunitas Mozila Firefox, komunitas YouTube, komunitas InnoCentive.
Tapi rupanya, dalam format yang sederhana tapi down to earth,
value-creating community itu sudah hadir di negeri ini.

Dua minggu lalu saya surprise, karena value-creating community yang
memanfaatkan social media ini juga telah hadir dalam format yang
sederhana di dunia sastra. Dalam artikelnya, Sastra Pun Berdiaspora,
(Minggu, 11 Januari 2009), Kompas menengarai munculnya fenomena “era
booming sastrawan”. Kata Kompas, saat ini sedang terjadi boom
munculnya sastrawan-sastrawan baru dalam jumlah yang besar, yang lahir
tak hanya dari kalangan sastrawan tapi juga dari kalangan mahasiswa,
anak-anak SMA, remaja-remaja gaul, buruh pabrik, ibu rumah tangga,
anak jalanan, hingga pembantu rumah tangga.
Bagaimana boom sastrawan ini bisa terjadi? Biangnya adalah media
sosial yang memungkinkan siapaun kita bisa membicarakan, berdiskusi,
membaca, dan menulis puisi. Media sosial itu bisa berupa
komunitas-komunitas penggandrung sastra (contohnya di tulisan itu:
Komunitas Bunga Matahari, Komunitas Lingkar Pena, dsb) juga
media-media sosial seperti situs-situs Blogspot, Multiply, Worpress,
Friendster, atau Facebook.
Para penggiat sastra itu membentuk “crowd” atau komunitas yang menjadi
medium bagi mereka untuk belajar, bertukar pikiran, berdiskusi, dan
akhirnya menghasilkan karya. Proses penciptaan karya sastra kini sudah
tidak dilakukan secara sendiri-sendiri (merenung di pucuk gunung atau
di pinggir pantai yang sepi) tapi melalui social media seperti
komunitas online atau situs jejaring sosial seperti Facebook untuk
mengambil manfaat dari adanya “wisdom of crowd” seperti halnya yang
terjadi pada komunitas TDA.

“Sejuta Bill Gates”

Ngobrol panjang dengan mas Iim, mas Rosihan, dan mbak Ines tentang TDA
mengingatkan saya tentang buku powerful yang ditulis Thomas Friedman,
The World Is Flat. Dalam buku itu Friedman memprediksi munculnya
“jaman keemasan” di mana akan lahir 3 miliar individu dari India,
Cina, Rusia dan beberapa negara industri baru seperti Brasil,
Malaysia, hingga Vietnam yang saling berkolaborasi sekaligus
berkompetisi secara virtual-global untuk menghasilkan inovasi-inovasi
dan value creation dalam kuantitas dan kualitas yang tak terbayangkan
dalam sejarah umat manusia.

Tiga miliar individu itu akan merupakan spesialis-spesialis yang
saling berinteraksi, saling sharing knowledge, saling berkolaborasi
kerja satu sama lain untuk menghasilkan invasi-inovasi besar sekelas
Linux atau membentuk perusahaan hebat sekelas eBay atau Google. Ketika
3 miliar individu itu memiliki akses kepada perangkat-perangkat
kolaborasi (tools of collaboration) berbasis internet maka mereka akan
menjadi spesialis yang siap untuk “plug & play” di dalam jaringan
kerja virtual-global yang sangat efisien, seamless, self-governed, dan
sangat powerful.

Di dalam jaringan ini, betul-betul yang menjadi main driver-nya adalah
individu—nggak ada lagi negara, nggak ada lagi IMF atau WTO, nggak ada
lagi multinational corporation. Karena itu Friedman menyebut saat itu
sebagai era pemberdayaan individu: “Individual empowerment”.

Karena energi dan potensi individu terlepaskan (”unleash”) dengan
adanya mass collaboration, maka dunia nantinya akan mampu memproduksi
orang hebat macam Bill Gates atau Steve Jobs bukan hanya dalam jumlah
puluhan atau ratusan, tapi bisa mencapai miliaran. Friedman bahkan
sudah menyebutkan angka pastinya: 3 miliar. Miliaran individu hebat
akan menghasilkan jutaan inovasi hebat, jutaan teknologi hebat, jutaan
perusahaan hebat, jutaan organisasi hebat, alangkah indahnya.

Terus terang saat membaca hipotesis itu, saya berguman Friedman sedang
ngelantur. Namun begitu seminggu lalu saya mendengar cerita mas Iim,
mas Rosihan, dan mbak Inez, saya jadi takjub: “Rupanya apa yang
divisikan Friedman bukanlah omong kosong.”

Seperti Friedman saya bermimpi (”I have a dream …” kata Martin Luther
King), kehadiran TDA dan “TDA-TDA lain” yang bakal menyusul akan mampu
melahirkan sejuta entrepreneur hebat sekelas Bill Gates di Indonesia.
Saya tidak muluk-muluk seperti Friedman. Tak usah “3 miliar”, didiskon
cuma jadi “sejuta” saja sudah alhamdulillah. Jadi dengan mass
collaboration, kini kita sedang menyongsong sebuah era keemasan di
mana akan lahir sejuta Bill Gates di negeri ini. Saya menyebut era itu
“ERA SEJUTA BILL GATES”

…Mari kita songsong: “ERA SEJUTA BILL GATES”

Yuswohady
http://yuswohady.com

482

Add A Comment

Powered by WordPress